Minggu, 04 Januari 2009

Modifikasi Perilaku

MODIFIKASI PERILAKU

REINFORCEMENT, EXTINCTION, PUNISMENT,

STIMULUS CONTROL, dan RESPONDENT CONDITIONING


Oleh: Dyah Permatasari


MODIFIKASI PERILAKU

Pengertian

Modifikasi perilaku adalah suatu bentuk perubahan karena adanya upaya modifikasi. Modifikasi perilaku merupakan pokok bahasan dalam lingkup psikologi yang memusatkan perhatiannya untuk menganalisis dan memodifikasi perilaku manusia.


Sejarah Singkat Modifikasi Perilaku

Kegiatan modifikasi perilaku (behavior modification) secara umum mendasarkan kegiatannya pada pemikiran psikologi behaviorisme yang banyak dipengaruhi oleh teori stimulus respon dari Pavlov dan yang kemudian dikembangkan oleh B. F. Skinner. Pada tahun 1938, ia menerbitkan artikel dengan judul the Behavior of Organisms yang di dalamnya menjelaskan hasil eksperimennya pada tikus. Atas dasar hasil eksperimen tersebut ia memperkenalkan konsep dan prinsip operant conditioning yang merupakan hal baru yang sebelumnya hanya dikenal respondent conditioning dari Pavlov (Marthin dan Pear, 1999). Kemudian pada tahun 1953, B. F. Skinner juga menerbitkan buku dengan judul Science and Human Behavior. Dalam buku ini ia menjelaskan penerapan prinsip dasar behaviorisme dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Psikologi behaviorisme memandang bahwa perilaku manusi dipengaruhi oleh lingkungannya dan atau akibat dari perilaku itu sendiri (consequence). Mekanisme hubungan antara perilaku manusi dengan lingkungan dan konsekuensinya inilah yang mendapat sorotan utama psikologi behaviorisme. Psikologi behaviorisme memandang bahwa perilaku (behavior) manusia dapat diubah atau dimodifikasi dengan memberikan stimulus dalam lingkungannya. Prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar kerja modifikasi perilaku. Lingkungan (environment) yang dimaksud adalah segala sesuatu yang ada disekitar seseorang yang mempengaruhi perilakunya. Obyek seperti manusia, benda, dan kejadian yang membuat perilaku seseorang terpengaruh disebut stimulus atau rangsangan.


Perilaku

Untuk memahami prinsip modifikasi perilaku pertama-tama yang harus dipahami adalah konsep perilaku (behavior itu sendiri). Secara umum behavior didefinisikan sebagai sesuatu yang dikatakan atau dilakukan oleh seseorang (Marthin and Pear, 199:3). Berikut adalah beberapa karakteristik perilaku:

  • Sesuatu yang dilakukan dan dikatakan seseorang.

  • Perilaku memiliki satu atau lebih dimensi yang dapat diukur yaitu frekuensi, durasi, dan intensitas.

  • Perilaku dapat diamati, digambarkan, dicatat/direkam, diukur oleh orang lain atau pelaku itu sendiri.

  • Perilaku mempunyai dampak/pengaruh pada lingkungan.

  • Perilaku mengikuti hukum/lawful prinsip belajar.

Berdasarkan bisa dan tidaknya perilaku seseorang diamati oleh orang lain, perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu perilaku yang teramati secara langsung disebut perilaku overt (contohnya: berjalan, berbicara, melempar bola, menendang seseorang) dan perilaku yang tidak dapat diamati secara langsung oleh orang lain disebut perilaku covert (contohnya: seorang mahasiswa saat akan maju presentasi dalam benaknya berkata ”Saya berharap presentasi ini akan berhasil” dan ia tampaknya merasa cemas (detak jantungnya meningkat). Dalam kasus ini, berfikir/thinking dan merasa cemas/feeling merupakan salah satu bentuk perilaku covert).


Karakteristik Modifikasi Perilaku

Modifikasi perilaku adalah kegiatan yang sekarang ini sebagian besar diaplikasikan pada perilaku manusia seperti dalam proses pengajaran, pendidikan jasmani, kesehatan, dan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu dalam melakukan praktek modifikasi perilaku harus memperhatikan prinsip dan etika modifikasi perilaku. Berikut ini adalah karakteristik modifikasi perilaku:

  • Fokus pada perilaku. Prosedur modifikasi perilaku didesain untuk mengubah perilaku, bukan karakteistik pribadi atau sifat. Di dalam modifikasi perilaku, perilaku yang akan dimodifikasi disebut sebagai perilaku targat (target behavior). Ada dua bentuk target perilaku dalam modifikasi perilaku:

    • Behavioral exceses adalah perilaku target yang negatif (tidak layak) yang ingin dikurangi frekuensi, durasi, atau intensitasnya, contohnya: perilaku merokok.

    • Behavioral deficit adalah aladah target perilaku yang positif (lanyak) yang ingin ditingkatkan frekuensi, durasi, atau intensitasnya, contohnya: perilaku gemar membaca.

  • Prosedur yang digunakan berdasarkan pada prinsip behaviour (behavioral principles).

Prinsip Dasar Dalam Modifikasi Perilaku:

  • Reinforcement

  • Extinction

  • Punisment

  • Stimulus control, dan

  • Respondent conditioning


REINFORCEMENT

Pengertian

Adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang.

Contoh:

  • Pada percobaan yang dilakukan oleh Thorndike (tahun 1911), Ia meletakkan seekor kucing yang lapar pada sebuah kandang. Di sisi luar kandang yang dapat dilihat oleh kucing, Thorndike meletakkan makanan. Pintu kandang akan terbuka jika kucing memukul tuas yang ada pada pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali kucing dapat memukul tuas tersebut. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya kucing dapat memukul tuas tersebut dan akhirnya pintu terbuka sehingga kucing tersebut dapat mengambil makanan tersebut. Perlakuan yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda dan ternyata kucing dengan segera mampu membuka pintu kandang dengan memukul tuas yang ada.

Pada contoh ini, kucing tersebut akan cenderung untuk memukul tuas saat ini dimasukkan kedalam kandang, karena tingkah laku tersebuat segera menghasilkan akibat terbukanya pintu dan kucing dapat mengambil makanan yang ada. Mengambil makanan (pada kucing yang lapar tersebut) merupakan konsekuensi yang reinforced (memperkuat) tingkah laku kucing memukul tuas yang ada.

Dari contoh di atas, reinforcement dapat didefinisikan sebagai:

  1. Kejadian perilaku tertentu

  2. Diikuti oleh akibat yang segera mengikutinya

  3. Hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.


Jenis-Jenis Reinforcement

    • Positif Reinforcement

  1. Kejadian sebuah tingkah laku

  2. Diikuti oleh penambahan stimulus atau peningkatan intensitas dari stimulus

  3. Yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.

    • Negatif Reinforcement

      1. Kejadian sebuah tingkah laku

      2. Diikuti oleh penghilangan stimulus atau penurunan intensitas stimulus

      3. Yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.

Contoh:

Negatif Reinforcement

Tingkah laku Ibu yang membelikan anak permen berhasil mengurangi atau menghentikan tingkah laku tantrum anak (stimulus yang tidak disukai menghilang). Akibatnya, Ibu akan cenderung untuk membelikan anak permen saat anak bertingkah laku tantrum di toko.

Positif Reinforcement

Saat anak bertingkah laku tantrum di toko, ia mendapatkan permen (positif reinforcer/penguat positif diberikan). Akibatnya, anak akan cenderung untuk tantrum di toko.


Tingkah Laku Escape dan Avoidance

Di (dalam) perilaku escape, kejadian perilaku mengakibatkan penghentian dari suatu aversive stimulus yang telah siap muncul ketika perilaku terjadi. Dengan kata lain, orang lepas/terhindar dari aversive stimulus dengan berperilaku tertentu, dan perilaku itu diperkuat. Di (dalam) perilaku avoidance, kejadian perilaku mencegah munculnya aversive stimulus. Dengan kata lain, orang menghindari aversive stimulus dengan berperilaku tertentu, dan perilaku itu diperkuat.

Contoh:

Perilaku Escape:

Seseorang berjalan di atas aspal yang panas dan dengan seketika melangkah ke rumput. Pijakan ke rumput merupakan jalan keluar dari aspal yang panas.

Perilaku Avoidance:

Seseorang mengenakan sepatu lain waktu saat dia berjalan di aspal panas. Memakai sepatu merupakan penghindaran dari aspal yang panas.


Unconditioned dan Conditioned Reinforcers

Reinforcement adalah proses natural yang mempengaruhi tingkah laku manusia dan hewan. Unconditioned reinforcers adalah penguat alami yang biasanya bersifat kebutuhan biologis (contoh: makanan, air, dan kebutuhan sexual); tidak ada pengalaman lebih dulu yang diperlukan dengan stimuli ini untuk menjadikannya berfungsi sebagai reinforcers. Conditioned reinforcer adalah stimulus netral tapi menjadi penguat yang tidak dapat dipungkiri dengan memasangkannya dengan unconditioned reinforcer (contoh: uang dan perhatian orang tua).


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektivan Reinforcement

  1. Immediacy/Kesegeraan

Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita mengutarakan sebuah lelucon kepada teman kita dan dengan segera teman kita tertawa karenanya, maka kita cenderung akan kembali mengutarakan lelucon tersebut di kemudian hari. Namun jika setelah kita mengutarakan lelucon tersebut ternyata teman kita terlambat tertawa, maka kita akan cenderung untuk tidak mengulangi mengutarakan lelucon tersebut.

  1. Contingency

Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menguatkan (reinforce) respon tersebut. Saat respon tersebut menghasilkan konsekuensi dan konsekuensi tersebut tidak muncul kecuali respon tersebut hadir terlebih dahulu, kita katakan bahwa contingency hadir diantara respon dan konsekuensi. Contohnya saat kita menekan tombol starter pada motor kita dan dengan segera motor tersebut dapat nyala, maka kita akan cenderung menyalakan mesin motor kita hanya dengan menekan tombol stater tersebut. Namun jika ternyata suatu saat tanpa menekan tombol stater motor kita dapat menyala, maka perilaku menekan tombol stater ini akan melemah. Contoh lain adalah, ibu yang berjanji pada anaknya, bahwa setiap kali anaknya berhasil mendapatkan peringkat I di kelasnya maka ia akan memberikan anaknya hadiah berlibur ke pulau Bali, hal ini dapat membuat anak menjadi rajin belajar dan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan peringkat I. Namun jika suatu saat ia diajak ibunya untuk berlibur ke pulau Bali meskipun ia tidak mendapatkan peringkat I, maka perilaku rajin belajar dan usaha keras anak bisa jadi melemah.

  1. Establishing Operations

Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: Saat kita dalam kondisi haus, air akan lebih bermakna dibandingkan saat kita dalam kondisi normal.


  1. Individual Differences/Perbedaan Individual

Reinforcer (penguat) akan berbeda pada setiap individu. Contoh: permen mungkin akan menjadi penguat pada anak kecil, namun (mungkin) tidak pada orang dewasa.

  1. Magnitude/Kwantitas

Dengan establishing operations yang sesuai, biasanya, efectiveness suatu stimulus sebagai reinforcer adalah lebih besar jika jumlah atau penting/besar suatu stimulus lebih besar. Contohnya: Kita akan lebih berusaha keras untuk keluar dari bangunan yang sedang terbakar dibandingkan dengan usaha kita untuk keluar dari suatu tempat yang panas terkena matahari.


Schedules of Reinforcement (Jadwal Penguatan)

Adalah pengaturan waktu atau frekuensi pemberian penguatan. Penguatan yang diberikan hanya pada waktu-waktu tertentu disebut partial reinforcement.

Jadwal penguatan bervariasi menurut waktu pemberian C.S. Ada 2 kategori penjadwalan penguatan ini, yaitu:

  1. Pemberian penguatan berdasarkan jumlah respon (ratio) dan pemberian penguatan berdasarkan selang waktu (interval).

  2. Pemberian penguatan dilakukan secara teratur (fixed/regular) atau tidak teratur (variabel/irregular).

Dari 2 kategori tersebut maka diperoleh 4 penjadwalan penguatan yaitu:

  1. Fixed Ratio (FR): suatu jimlah respon tertentu menentukan penguatan berikutnya diberikan (misalnya setelah 25 kali terjadi perilaku operant).

  2. Fixed Interval (FI): selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya.

  3. Variabel Ratio (VR): jumlah perilaku responden yang terjadi tidak ditentukan secara kaku (misalnya setelah 5 sampai 15 kali).

  4. Varibel Interval (VI): waktu pemberian penguat divariasi diantara selang waktu tertentu (tiga sampai lima menit, misalnya).


EXTINCTION

Pengertian

Adalah hilangnya respons. Tingkah laku yang telah mengalami pengutan, pada beberapa saat/periode waktu tidak lagi diperkuat, dan oleh karena itu, tingkah laku tersebut berhenti untuk muncul. Extinction terjadi saat:

  1. Sebuah tingkah laku sebelumnya telah diperkuat.

  2. Tidak lagi mengakibatkan penguatan konsekwensi.

  3. Dan, oleh karena itu, perhentian perilaku terjadi di masa dating.

Contoh:

Rae, terbiasa untuk minum kopi setiap pagi sebelum mengikuti perkulihan. Seperti biasa, Rae akan berhenti di sebuah mesin menyedia kopi, memasukkan koin ke dalam mesin, menekan tombol pada mesin, dan segelas kopi akan segera keluar/tersedia. Suatu hari, seperti biasa, Rea berhenti di sebuah mesin penyedia kopi, memasukkan uang, menekan tombol pada mesin, dan ternyata tidak ada yang terjadi (kopi tidak keluar). Ia menekan tombol lebih keras dan memukul/menendang/membanting bagian bawah mesin untuk beberapa waktu, akan tetapi ia tetap tidak mendapatkan kopi yang diinginkannya. Rea tidak mencoba untuk menggunakan mesin penyedia kopi itu lagi selama satu minggu, tapi suatu hari ia kembali mencoba menggunakan mesin itu lagi, dan ternyata kejadian yang sama kembali terulang. Akhirnya Rea tidak lagi menggunakan mesin penyedia kopi tersebut, Rea memilih untuk membeli kopi di took yang ada di jalan menuju sekolahnya.


Extinction Burst

Adalah peningkatan pada frekuensi, durasi, atau intensitas dari tingkah laku yang tidak diperkuat selama proses extinction. Extinction burst, yang melibatkan suatu peningkatan di (dalam) perilaku yang tidak diperkuat atau kejadian baru ( dan kadang-kadang emosional) pada suatu periode waktu yang cepat, adalah suatu reaksi alami untuk penghentian penguatan. Peningkatan frekuensi, jangka waktu, atau intensitas dari tingkah laku tidak diperkuat – atau perilaku baru yang terjadi selama extinction – mungkin diperkuat, dan [dengan] begitu extinction burst merupakan tujuan berharga.

Ketika sebuah tingkah laku tidak lagi diperkuat, akibatnya mungkin akan mengikuti:

  1. Tingkah laku akan segera meningkat frekuensi, durasi, atau intensitasnya.

  2. Tingkah laku baru mungkin terjadi.

  3. Respon yang emosional atau tingkah laku agresif mungkin terjadi.

Contoh: Saat Rae tidak mendapatkan kopi yang diinginkan (dengan sekali menekan tombol pada mesin kopi yang biasa ia gunakan), Rae menekan tombol tersebut berulang-ulang (peningkatan frekuensi) dan kemudian terus mencoba menekannya dengan lebih keras lagi (peningkatan intensitas) sebelum akhirnya menyerah. Rae tidak hanya menekan tombol pada mesin pembuat kopi saat kopi tidak keluar tetapi juga memencet tombol keluar uang dan mengguncang-guncang mesinnya (tingkah laku baru terjadi). Karena peristiwa ini, bisa saja Rae menunjukkan kemarahannya dan mengomel atau bahkan menendang mesinnya (respon emosional terjadi).


Spontaneous Recovery

Salah satu karakteristik dari extinction adalah bahwa tingkah laku dapat muncul kembali setelah beberapa waktu tidak muncul. Hal ini disebut sebagai spontaneous recovery. Spontaneous recovery adalah kecenderungan alami perilaku untuk terjadi lagi di (dalam) situasi yang serupa dengan situasi dimana extinction belum terjadi (Chance, 1988; Zeiler, 1971). Contohnya: Seorang anak yang kembali menangis di tengah malam (untuk mendapatkan perhatian) setelah sebelumnya telah terjadi extinction. Jika ia tidak mendapatkan perhatian dari tangisan itu, maka ia tidak akan lagi menangis di tengah malam untuk waktu yang lama. Namun demikian jika tingkah lakunya ini (kembali menangis di tengah malam – spontaneous recovery) saat ini mendapatkan penguatan, maka effek dari extinction akan hilang.


Konsep yang Salah Tentang Extinction

Konsep yang salah mengenai extinction adalah mengartikan extinction sebagai mengabaikan tingkah laku. Extinction berarti memindahkan reinforcer untuk suatu perilaku. Abaikan perilaku masalah berfungsi sebagai extinction hanya jika perhatian [itu] adalah reinforcer.

Contoh:

Seorang yang mencuri pakaian di toko, diperkuat dengan berhasil mendapatkan barang curian yang ada di toko. Jika salaspeople di toko mengabaikan perilakuorang tersebut, maka hal ini tidak akan menyebabkan perilaku itu untuk berhenti. Pengabaian terhadap tingkah laku ini tidak dapat dikatakan sebagai extinction.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Extinction

  1. Jadwal penguatan sebelum extinction

Jadwal penguatan ikut menentukan apakah hasil extinction akan menurunkan tingkah laku secara cepat atau perlahan-lahan. Pada pemberianan/penjadwalan reinforcement yang kontinyu, setiap saat target perilaku tercapai maka reinforcement diberikan; sedangkan dalam penjadwalan pemberian reinforcement yang intermittent (berselang-seling), tidak setiap kali perilaku target tercapai maka akan diberi pengutan. Saat tingkah laku secara kontinyu diperkuat (dengan penjadwalan reinforcement yang kontinyu), maka tingkah laku tersebut akan menurun secara cepat saat reinforcement/penguat dihentikan. Di sisi yang lain, saat tingkah laku diperkuat dengan penjadwalan yang berselang-seling, maka tingkah laku tersebut akan menurun lebih perlahan saat reinforcement/penguat dihentikan. Hal ini terjadi karena perubahan dari reinforcement ke extinction menjadi sangat berbeda (discriminable) ketika tingkah laku diperkuat setiap kali dibandingkan dengan tingkah laku yang hanya diperkuat sesekali.

  1. Kejadian penguatan setelah extinction

Jika reinforcement/penguatan muncul saat proses extinction, hal ini membuat penurunan tingkah laku menjadi lama dan sulit. Hal ini karena penguatan dari tingkah laku, saat extinction telah dimulai, sejumlah intermittent reinforcement, menjadikan tingkah laku menjadi lebih resisten untuk extinction. Sebagai tambahan, jika tingkah laku diperkuat selama episode spontaneous recovery, tingkah laku dapat meningkat pada level ini sebelum extintion. Contoh: saat tangisan anak di tengah malam telah mengalami extinction, namun suatu ketika anak menangis lagi dan kita merespons/memberi penguatan terhadap tangisannya, maka tindakan kita ini akan menghambat extinctionnya.



PUNISHMENT (HUKUMAN)

Pengertian

Contoh:

Kathy, seorang mahasiswa, pindah ke apartement baru yang terletak di dekat kampusnya. Dalam perjalanan menuju kampus, Kathy bertemu/melihat sebuah kandang yang berisi seekor anjing besar yang terlihat bersahabat/ramah. Suatu saat, ketika anjing tersebut berada di dekat pagar, Kathy mengelurkan tangannya dari atas pagar untuk menimang anjing tersebut. Dengan segera, anjing tersebut menggeram, memperlihatkan giginya, dan menggigit tangan Kathy. Setelah kejadian ini, Kathy tidak pernah lagi mencoba untuk menimang anjing.

Contoh di atas menggambarkan prinsip behavior dari punishment/hukuman. Seseorang melakukan sebuah tingkah laku dan segera diikuti oleh konsekuensi yang membuat tingkah laku tersebut cenderung untuk tidak diulang lagi pada masa mendatang.

Tiga hal yang dapat digunakan untuk mendefinisikan punishment/hukuman:

  1. Perilaku tertentu terjadi.

  2. Sebuah konsekuensi segera mengikuti tingkah laku tersebut.

  3. Sebagai hasilnya, perilaku cenderung untuk tidak muncul kembali di masa mendatang.


Konsep yang Salah mengenai Punishment (hukuman)

Pada modifikasi perilaku, punishment diartikan sebagai sebuah teknik yang memiliki maksud spesifik. Saat analis behavior berbicara mengenai punishment, mereka menunjuk sebuah proses dimana konsekuensi dari sebuah tingkah laku dapat menghasilkan penurunan kejadian tingkah laku dikemudian hari. Hal ini sangat berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang mengenai makna dari punishment. Dalam pemakai yang umum, punishment dapat berarti banyak hal, kebanyakan dari pengertian tersebut tidak menyenangkan.

Banyak orang mengartikan punishment sebagai tindakan kejahatan pada orang lain. Orang yang tidak familiar dengan definisi punisment sebagai sebuah teknik, akan percaya bahwa penggunaan punishment dalam memodifikasi perilaku adalah salah dan berbahaya. Pengertian yang salah mengenai penggunaan teknik punishment sebagai sebuah hal yang kejam dan jahat pada proses modifikasi perilaku adalah salah karena penggunaan punishment dalam sebuah terapi memiliki tujuan spesifik yang bertujuan untuk mencapai target perilaku.


Positif dan Negatif Punishment

Ada dua variasi prosedural dasar dari punishment, yaitu:

    • Positif Punishment

  1. Kejadian suatu perilaku.

  2. Diikuti oleh penyajian stimulus yang tidak disukai (aversive stimulus).

  3. Dan, sebagai hasilnya, tingkah laku tersebut cenderung untuk tidak muncul kembali di masa mendatang.

    • Negatif Punishment

  1. Kejadian suatu perilaku.

  2. Diikuti oleh penghilangan stimulus yang memperkuat.

  3. Dan, sebagai hasilnya, tingkah laku tersebut cenderung untuk tidak muncul kembali di masa mendatang.

Contoh:

Positif punishment

Pada kasus seorang anak wanita yang suka menampar dirinya sendiri. Saat wanita itu menampar dirinya sendiri, peneliti segera menerapkan/memberikan shok elektric singkat dengan menggunakan alat shok hand-held. (walaupun shok ini menyakitkan, tapi tidak membahayakan bagi wanita tersebut). Sebagai hasilnya, perilaku menampar diri sendiri pada wanita ini pun berkurang. Kasus ini merupakan contoh penerapan positif reinforcement karena painful stimulus (stimulus yang menyakitkan) segera diberikan saat wanita itu menampar dirinya sendiri, dan tingkah laku (menampar diri sendiri) berkurang sebagai hasilnya.

Negatif punishment

Pada kasus seorang anak yang suka menginterupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tuanya. Dengan menggunakan prinsip negatif punishment, maka cara untuk mengurangi/menghilangkan tingkah laku suka menginterupsi (menyela/mengganggu) ini adalah dengan menghilangkan beberapa penguat lainnya (yang disenangi anak dan tidak berkaitan langsung dengan tingkah lakunya) – seperti dengan tidak memberikan uang jajan atau larangan menonton TV – setiap kali anak melakukan interupsi (menyela/mengganggu) pekerjaan orang tua. Dengan begitu, anak akan mengurangi perilaku suka menginterupsi-nya. Kasus ini merupakan contoh penerapan negatif reinforcement karena stimulus yang memperkuat segera dihilangkan saat anak itu menginterupsi orang tuanya, dan tingkah laku (menginterupsi) berkurang sebagai hasilnya.


Unconditioned dan Conditioned Punishment

Unconditioned punishment adalah kejadian atau stimuli yang secara alami menghukum (punishing) karena menghindarkan atau meminimalkan kontak dengan sebuah stimuli yang memiliki nilai survival (Cooper et al.,1987). Contoh unconditioned punisment: suhu panas atau dingin yang ekstrim atau stimulus menyakitkan lainnya yang secara natural/alami menghentikan tingkah laku yang menghasilkannya (painful stimulus).

Conditioned punishment adalah stimuli atau kejadian yang berfungsi sebagai punisher (penghukum) hanya setelah dipasangkan dengan unconditioned punishers atau conditioned punisher lainnya yang ada. Contoh: Kata “tidak” adalah conditioned stimuli karena kata ini selalu dipasangkan dengan punishing stimuli lainnya. (contoh: ketika Ibu melarang anak yang merengek dengan menggunakan kata ”tidak” dan anak tersebut segera menghentikan rengekannya karena ia tahu jika ia terus merengek setelah ibu mengingatkannya dengan kata ”tidak” maka ia akan dipukul).





Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektivan Punishment (Hukuman)

  1. Immediacy/Kesegeraan

Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh: saat seorang murid mengeluarkan kata-kata kasar di kelas, maka guru yang sedang mengajar segera menunjukkan wajah marah kepada anak tersebut. Perilaku guru ”menunjukkan wajah marah” pada sang murid, akan menjadi lebih efektif jika dilakukan segera pada saat anak mengeluarkan kata-kata kasar dibandingkan dengan menundanya hingga 30 menit kemudian atau beberapa menit kemudian.

  1. Contingency

Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menghentikan respon tersebut. Punishment akan lebih efektif jika punishment tersebut dipasangkan secara konsisten.

  1. Establishing Operations

Adalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: mengatkan kepada anak bahwa siapa yang berbuat nakal saat makan malam maka ia tidak akan mendapatkan makanan penutup (dessert), menjadi kurang efektif jika saat itu anak sudah menikmati dua atau lebih makanan penutup.

  1. Individual Differences/Perbedaan Individual dan Magnitude/Kwantitas dari Punisher.

Keefektivan pemberian punisher (penghukum) akan berbeda pada setiap individu. Keefektivan punisher juga di tentukan oleh kwantitas punisher-nya. Contoh: digigit nyamuk adalah sesuatu yang dinilai sebagai stimulus yang sedikit tidak menyenangkan untuk kebanyakan orang; perilaku memakai celana pendek di dalam hutan mungkin menjadi punishment karena nyamuk menggigit kaki, dan merindukan memakai celana panjang pada situasi ini diperkuat secara negatif (negatively reinforced) untuk menghindari gigitan nyamuk. Contoh lainnya, sebagai pembanding, adalah sakit yang sangat dirasakan akibat sengatan lebah merupakan punisment bagi kebanyakkan orang. Orang akan menghentikan perilaku yang akan mengakibatkannya disengat lebah dan meningkatkan perilaku mereka yang dapat menghindarkan mereka dari sengatan lebah. Karena disengat lebah lebih menyakitkan bila dibandingkan dengan digigit nyamuak, maka sengatan lebah menjadi lebih efektif sebagai punisher.


Masalah yang Timbul dari Hukuman

  1. Punishment dapat menghasilkan reaksi emosional atau efek samping emosional lainnya.

  2. Penggunaan hukuman dapat menghasilkan jalan keluar atau penghindaran perilaku (escape atau avoidance) oleh orang/individu yang tingkah lakunya dikenakan punisher.

  3. Penggunaan hukuman mungkin secara negatif menguatkan untuk orang yang menggunakan hukuman dengan begitu dapat mengakibatkan penyalah gunaan atau hukuman penggunaan yang berlebihan dari hukuman.

  4. Saat punishment digunakan, penggunaan ia menjadi sebuah bentuk modeling, dan tingkah laku dari individu yang dikenakan hukuman akan cenderung untuk menggunakan hukuman pada masa mendatang.

  5. Punishment sangat dekat dengan issue ras (etnik) dan issue kemampuan menerima.



STIMULUS CONTROL:

Discrimination dan Generalization

Pengertian

Contoh:

Jake meminta uang kepada ibunya karena ia ingin berbelanja dan ibunya pun memberikan uang tersebut. Ketika Jake melakukan hal yang sama kepada ayahnya, meminta uang kepada ayahnya, ayahnya menolak permintaan Jake dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan sendiri. Sebagai hasilnya, ketika Jake membutuhkan uang untuk berbelanja, maka ia akan meminta uang kepada ibunya, bukan pada ayahnya. Dari contoh kasus ini kita katakan bahwa, kesediaan ibu memberikan uang kepada Jake merupakan stimulus control bagi tingkah laku Jake untuk meminta uang.

Contoh di atas menggambarkan prinsip dari stimulus control. Dimana, sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. (Antecedent stimulus adalah stimulus yang mendahului terjanya tingkah laku). Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.


Pengembangan Stimulus Kontrol

Stimulus Discrimination Training

Stimulus kontrol berkembang karena tingkah laku diperkuat hanya jika stimulus antisedent yang spesifik hadir/ada. Oleh kaena itu, tingkah laku akan kembali muncul/berlanjut dimasa yang akan datang hanya jika stimulus antesedent hadir. Antecedent stimulus yang muncul/hadir saat tingkah laku diperkuat di berinama discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku, tingkah laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Jadi SD merupakan stimulus spesifik (hanya dengan stimulus ini, bukan stimulus lain) yang menyebabkan sebuah tingkah laku muncul. Proses penguatan (reinforcing) tingkah laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus) hadir, disebut stimulus discrimination training.

Dua langkah yang terdapat pada stimulus discrimination training:

  1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.

  2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent stimulus lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-delta (S).

Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk muncul kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan/tampil tapi akan cenderung untuk tidak muncul saat Sdimunculkan.


The Three-Term Contingency

Berdasar pada Skinner (1969), stimulus discrimination training melibatkan three-term contingency, dimana konsekuensi (penguat atau punisher) adalah bagian dari munculnya tingkah laku hanya saat spesifik stimulus antecedent muncul. Three-Term Contingency melibatkan hubungan antara stimulus antecedent, tingkah laku, dan konsekuensi dari tingkah laku. Analis behavior biasanya menyebutnya ABCs (antecedents, behavior, consequences) dari tingkah laku (Arndorfer & Miltenberger, 1993; Bijou, Peterson, & Ault, 1968). Stimulus antecedent berkembang menjadi stimulus control karena tingkah laku diperkuat atau dipunis hanya jika stimulus antecedent muncul. Notasi yang digunakan untuk mendeskripsikan three-term contingency yang menyertakan reinforcement adalah:

SD R SR

Dimana SD = discriminative stimulus, R = respos, dan SR = reinfocer (reinforcing stimulus) . Sedangkan notasi three-term contingency yang menyertakan punishment adalah:

SD R Sp

SP = punisher ( punishing stimulus)


Generalization

Pada kasus tertentu, kondisi antecedent dimana tingkah laku tersebut diperkuat (dengan reinforcement) atau terhenti (dengan extinction atau punishment) adalah spesifik namun di kasus lain, kondisi antecedent meluas dan tervariasi. Ketika control stimulus dari sebuah tingkah laku menjadi meluas – hal ini, saat tingkah laku terjadi dalam cakupan situasi antecedent – kita katakana bahwa generalisasi stimulus (stimulus generalization) sedang terjadi.

Generalization mengambil tempat saat suatu tingkah laku muncul/terjadi ketika stimulus yang serupa dengan SD (yang dimunculkan selama Stimulus Discrimination Training) diberiakan (Stokes & Osnes, 1989).

Contoh:

Amy belajar untuk mengenal warna merah. Saat gurunya menunjukkan sebuah buku yang berwarna merah, Amy dapat mengatakan ”merah”. Generalization dikatakan telah terjadi saat Amy juga berkata “merah” saat gurunya menunjukkan kepada Amy sebuah bola yang berwarna merah, buku yang berwarna merah, atau objek lainnya yang berwarna merah.


RESPONDENT CONDITIONING

Pengertian

Operant behavior dikontrol oleh konsekuensi yang dihasilkannya; operant conditioning melibatkan manipulasi dari konsekuensi/memanipulasi konsekuensi. Sebaliknya, respondent behavior dikontrol oleh stimuli antesedent (antecedent stimuli), dan respondent conditioning melibatkan manipulasi dari stimuli antesedent (manipulasi dilakukan pada stimuli antesedentnya).

Contoh:

Julio menyelesaikan kuliahnya pada jam 9.30 malam. Pada pukul 9.40 Jolio naik bis dan sampai ke rumah pada jam 10.00. Setelah turun dari bis, Julio masih harus berjalan melalui terowongan yang berada di bawah rel kereta api untuk menuju rumahnya. Karena sebagian besar lampu terowongan tersebut rusak/mati, maka jalan tersebut menjadi gelap. Sejak permulaan semester, beberapa kejadian di dalam terowongan telah membuat Julio kaget dan takut: tikus yang besar berkeliaran; beberapa remaja mengancamnya; dan tuna wisma yang berada di terowongan tersebut secara tiba-tiba melompat dan mencaci ke arahnya. Pada suatu kesempatan, Julio merasa bahwa jantungnya berdetak dengan cepat, ototnya menegang, dan nafasnya semakin cepat. Respon badan (bodily responses) ini berlangsung selama Julio berada di dalam terowongan, dan baru hilang ketika Julio telah keluar/melewati terowongan. Ketika di dalam terowongan, Julio akan mempercepat langkahnya atau berlari untuk dapat cepat keluar dari terowongan tersebut. Ini adalah contoh dari respondent behavior.

Respondent conditioning muncul/terjadi saat stimulus yang sebelumnya netral dipasangkan dengan US (stimulus netral dan US/unconditioned stimulus ditampilkan bersama-sama). Sebagai hasilnya, stimulus netral tersebut menjadi conditioned stimulus (CS) dan menimbulkan a conditioned response (CR) atau disebut juga UR. UR dan CR disebut sebagai respondent behavior. Respondent conditioning juga disebut classical conditioning (Rachlin, 1976) atau Pavlovian conditioning (Chance, 1988).


Pengaturan Waktu dari Neutral Stimulus dan US

Pengaturan waktu dari neutal stimulus (NS) dan US adalah hal yang penting jika respondent conditioning ingin berhasil. Idealnya, US harus segera muncul setelah NS terjadi.

Beberapa tipe dari respondent conditioning:

    • Di delay conditioning, NS dimunculkan dan kemudian US dimunculkan sebelum NS berakhir. Contoh: pada pengkondisian kedipan mata. Delay conditioning muncul jika suara ‘klik’ dimunculkan dan siraman air diberikan sebelum suara ‘klik’ dihentikan.

    • Trace conditioning mirip dengan delay conditioning, disini NS mendahului munculnya US, tapi pada kasus ini NS berakhir/berhenti sebelum US dimunculkan. Contoh pada pengkondisian kedipan mata. Trace conditioning muncul jika terapis memunculkan suara ‘klik’ dan segera setelah suara ‘klik’ dihentikan, terapis memunculkan siraman air.

    • Di simultaneous conditioning, NS dan US dimunculkan secara bersama-sama (pada waktu yang sama). Contoh pada pengkondisian kedipan mata. Suara ‘klik’ dan siraman air dimunculkan bersama-sama.

    • Di backward conditioning, US dimunculkan sebelum NS dimunculkan. Contoh pada pengkondisian kedipan mata. Siraman air dimunculkan sebelum suara ‘klik’ dimunculkan.


Higher-Order Conditioning

Higher-Order Conditioning muncul ketika sebuah stimulus netral dipasangkan dengan CS yang telah dibentuk mapan (already-established CS) dan stimulus netral tersebut berubah/menjadi CS. Contoh: cahaya disinarkan setiap kali suara “klik” air berbunyi (suara “klik” air sebelumnya telah menjadi CS yang mengakibatkan mata terpejam saat mendenganrnya) maka cahaya akan secepatnya menjadi suatu CS yang akan menimbulkan mata terpejam bahkan ketika suara “klik” air tidak muncul.


Conditioned Emotional Responses

Conditioned emotional responses (CERs) merupakan tipe dari CRs yang dihasilkan dari respondent conditioning. Proses respondent conditioning dan mengembangkan CSs untuk CERs yang positif (diinginkan) atau CERs yang negative (tak diinginkan). Contoh CERs yang negatif: kemunculan CSs menimbulkan rasa takut, marah, jijik, kerugian, maupun perasaan tidak menyenangkan yang lain. Sedangkan CERs yang positif: kemunculan CSs menimbulkan rasa senang, cinta, maupun perasaan yang diinginkan/menyenangkan.



Extinction dari Conditioned Responses

Extinction dari CR disebut respondent extinction, melibatkan presentasi berulang CS tanpa diikuti dengan presentasi/kemunculan US. Jika CS tetap muncul saat US tidak dimunculkan/tidak hadir, maka intensitas CR secepatnya menurun dan berhenti. Respondent extinction terjadi bilamana CS terjadi tanpa kehadiran US, dan sebagai hasilnya, CS tidak lagi menimbulkan CR. Contoh: Jika Pavlov tetap mempertahankan untuk menghadirkan suara dari metronome (CS) tapi tidak memasangkannya dengan pemberian meat powder (US), anjing mengeluarkan air liur yang semakin lama semakin berkurang, dan akhirnya anjing tidak mengeluarkan air liur sedikitpun ketika mendengar metronome.


Discrimination dan Generalization dari Respondent Behavior

Discrimination/diskriminasi pada respondent conditioning adalah situasi dimana CR dimunculkan oleh single CS (CS yang tunggal) atau CSs yang terbatas. Sedangkan generalization terjadi saat beberapa CSs yang mirip atau CSs meluas menghasilkan CR yang sama. Contoh: saat seseorang takut pada jenis tertentu atau pada jenis ras anjing tertentu, maka dapat dikatan bahwa discrimination muncul. Saat seseorang takut pada semua anjing (tanpa pengecualian) maka dapat dikatakan bahwa generalization muncul.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respondent Conditioning

Kekuatan dari respondent conditioning tergantung pada faktor yang berbeda (Pavlov, 1927), yaitu:



  1. Intensitas dari US dan CS

Intensitas dari stimulus mempengaruhi efektivitas stimulus sebagai CS atau sebagai US. Pada umumnya, stimulus yang lebih intens lebih efektif sebagai US.

  1. Hubungan temporal antara CS dan US

Untuk menjadikan conditioning lebih efektif, CS harus mendahului US.

  1. Contingency antara CS dan US

Contingency antara CS dan US akan memiliki arti jika antara CS dan US dimunculnya secara bersama-sama dalam setiap percobaan.

  1. Banyaknya/seringnya pemasangan/memasangkan

Walaupun satu kali pemasangan antara neutral stimulus dan US biasanya cukup untuk membangun/menjadikan neutral stimulus menjadi CS, namun biasanya, pemasangan berulang antara CS dan US akan menghasilkan pengkondisian yang lebih kuat/stronger conditioning.

  1. Exposure sebelumnya terhadap CS

Sebuah stimulus akan lebih sulit untuk menjadi CS saat dipasangkan dengan US jika orang tersebut memiliki exposed (mengenal dengan baik) stimulus tersebut sebelumnya tanpa US.


Perbedaan antara Operant dan Respondent Conditioning

Respondent conditioning terjadi saat stimulus netral dipasangkan dengan US dan stimulus netral menjadi conditioned stimulus yang dapat memunculkan CR. Sedangkan operant conditioning terjadi saat sebuah tingkah laku diperkuat saat discriminative stimulus diberikan dan tingkah laku ini akan menjadi lebih sering muncul kembali saat discriminative stimulus diberikan.

DAFTAR PUSTAKA


Miltenberger, R.G. 2004. Behavior Modification Principles and Procedures Third Edition. United States of Amerika: Thomson Learning Academic Resource Center.


Irwanto, Elia, H., Hadisoepadma, A., Priyani, R.MJ., Wismanto, B.Y., dan Fernandes, C. 1994. Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.







2 komentar:

  1. assalamualaikum mbak dyah...
    sebelumnya makasih atas dokumen tentang modifikasi perilaku yang sangat membantu tuk melengkapi karya ilmiahku.
    tapi saya ingin tanya, apakah bisa teori modifikasi perilaku ini dipakai untuk terapi kognitif bagi anak tunagrahita ringan?
    makasih ya sebelumnya atas responnya.
    bisa balas ke emailku Rozisaptiyan@yahoo.com
    wassalam

    BalasHapus
  2. Walaikumsala warahatullahi wabarakatuh.

    Insya Allah modifikasi perilaku bisa digunakan untuk terapi Kognitif pada anak tunagrahita (MR)ringan. Namun, untuk teori modifikasi perilaku yang saya paparkan di blog ini masih merupakan teori modifikasi yang sangat umum dan dasar. Sedangkan untuk menjawab pertanyaan Saudara, Saudara bisa mencari atau membaca buku-buku/artikel modifikasi perilaku, khususnya yang membahas mengenai CBT (Cognitif Behavioral Therapy) yang merupakan salah satu jenis terapi modifikasi perilaku yang biasa digunakan untuk terapi bagi anak tunagrahita. Insya Allah Anda bisa lebih jelas lagi.

    -Terima Kasih-

    Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    BalasHapus